Biografi dan Profil Lengkap Nabi Elia (Kisah Perjalanan Hidupnya)


Biografi dan Profil Lengkap Nabi Elia (Kisah Perjalanan Hidupnya)


Syalom… saudara-saudara terkasih di dalam nama Tuhan Kita Yesus Kristus…
Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan sebuah artikel  yang berjudul Biografi Dan Profil Lengkap Nabi Elia (Kisah Perjalanan Hidupnya).Semoga dengan adanya artikel ini dapat bermanfaat dan Menambah wawasan serta pengetahuan saudara semuanya dalam membaca dan mendalami Firman Tuhann…









Sekilas Tentang Nabi Elia
Elia atau dalam bahasa Ibrani: אליהו Eliyahu, artinya "Yahweh adalah Allah"; bahasa Inggris: Elijah atau Elias) adalah seorang nabi di Kerajaan Israel  Utara pada zaman pemerintahan raja Ahab, Ahazia dan Yoram pada sekitar abad ke-9 SM, menurut Kitab Raja-raja dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama Alkitab Kristen. Elia juga dicatat dalam Perjanjian Baru dan Al Quran. Ia dihormati baik dalam agama Yahudi, Kristen dan Islam. Ia berasal dari Tisbe, Gilead.(1 Raja-raja 17:1)


Kisah Perjalanan Hidup Nabi Elia
Raja Ahab, telah membawa Israel kepada kemerosotan kerohanian lebih buruk dari semua raja yang pernah ada sebelumnya. Ahab telah menikahi Izebel putrid Raja Ethbal dari Sidon seorang imam besar dari dewa Baal. Raja Ahad sudah menyembah Baal dan telah mendirikan mezbah bagi Baal di Samaria (I Raja-Raja 16:31,32). Dengan demikian ia membangkitkan amarah Tuhan lebih daripada semua raja Israel. Bukan itu saja, Isebel istrinya juga telah mendirikan banyak sekali mezbah bagi penyembahan berhala di seluruh Israel sehingga mempengaruhi bangsa itu agar menyembah kepada Baal. Tidak ada kejahatan yang dilakukan oleh raja-raja Israel seperti yang diperbuat Raja Ahab yang didorong oleh istrinya Izebel. Dengan demikian bangsa itu telah melakukan dosa penyembahan berhala sama seperti apa yang diperbuat oleh orang Amori yang sudah dimusnakan Tuhan di hadapan Israel. (I Raja-Raja 21:25).
Tuhan dalam kemurahan-Nya tidak membiarkan bangsa itu mengalami kehancuran dan kebinasaan, sehingga Ia mengutus seorang nabi-Nya yang paling kuat dan berkuasa mengembalikan hati bangsa itu kepada Tuhan Khalik semesta alam. Nabi Elia melihat kemerosotan bangsa itu terus semakin dalam menimbulkan sakit hati dan kemarahan dalam hatinya. Ia sadar bila bangsa itu tidak juga berubah maka hukuman yang dasyat akan segera menimpa mereka oleh karna amarah dari Tuhan yang telah membawa mereka keluar dari perhambaan di Mesir oleh kuasa yang dasyat dan besar.
Sementara bangsa itu menyembah kepada Baal nabi memulai teguran dan panggilan kepada pertobatan supaya hanya memilih satu saja yang disembah yaitu Tuhan atau Baal. (I Raja-Raja 18:21).
“Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN (Yahweh) itu Tuhan, ikutilah Dia dan kalau Baal, ikutilah dia.”
Umat yang bercabang hati, tidak benar-benar mengikuti Tuhan. Mereka menyembah Tuhan sementara mereka juga menyembah kepada Baal.


                                   

.Kehidupan manusia pada waktu itu adalah dengan pertanian dan peternakan. Orang yang mempunyai tanah yang luas dengan pertanian dan perkebunan adalah orang-orang besar, orang kaya dan yang berpengaruh. Juga peternakan dengan ribuan kambing, domba, sapi dan unta adalah merupakan ukuran kekayaan dan kebesaran pada zaman Israel itu. Dan untuk memperoleh harta dan kekayaan dan kehormatan maka pertanian dan peternakan, tanah yang luas dan subur menjadi ukurannya. Dan tanah yang luas itu sangat membutuhkan hujan dan embun. Dan kepercayaan Israel telah diselimuti oleh kepercayaan bangsa-bangsa sekitar bahwa dewa Baal dan Asyera adalah cewa yang berkuasa menurunkan hujan dan embun untuk kesuburan dan kemakmuran bangsa-bangsa. Israel terlibat dalam penyembahan dewa Baal dan Asyera karna pengaruh Raja Ahab dan istrinya Izebel sendiri.
1.PUKULAN TERHADAP DEWA BAAL
Sekarang Nabi Elia diutus Tuhan dengan gagah berani dan dengan pernyataan yang keras menunjukkan kepada Israel bahwa Tuhan yang di surgalah si pemberi kemakmuran dan yang dapat menahan dan menurunkan hujan, bukan dewa Baal yang mereka sembah.
I Raja-Raja 17:1. “Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe Gilead, kepada Ahab: ‘ Demi Tuhan yang hidup, Tuhan Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.’”
Melalui Nabi Elia, Tuhan mau menunjukkan kepada Israel bahwa Dialah Tuhan si pemberi hujan. Selama 3 tahun 6 bulan lamanya hujan tidak akan pernah turun sehingga terjadilah kekeringan yang dasyat menimpah negeri itu. (I Raja-Raja 18:14). Dapatkah anda membayangkan apakah yang terjadi bila tidak turun hujan selama 3 tahun 6 bulan? Gagal panen akan menimbulkan bahaya kelaparan dan kebinasaan semua rumput dan tanaman, yang pasti menjadi kebinasaan terhadap manusia, binatang dan ternak serta makhluk lainnya.
Dan pada akhir musim kering 3 ½ tahun itu Elia perlu bertemu dengan Raja Ahab untuk menyatakan kekuasaan Tuhan di surga di hadapan rakyat itu, bukan kekuasaan Baal yang dapat menurunkan hujan dari langit dalam menjawab doa Elia. Maka diumumkan agar semua rakyat datang berkumpul menyaksikan pertunjukan diatas Bukit Karmel.



2.DEMONSTRASI KUASA DI KARMEL
Elia memanggil rakyat ke atas Bukit Karmel yang pada saat itu sangat gersang dan kering, semua pohon besar dan rindang dimana tempat penyembahan kepada dewa hutan dengan acara cabulnya sekarang tinggal ranting dan dahan kering. Elia mau membuktikan kepada Raja Ahab dan Izebel istrinya bersama 450 orang nabi Baal dan 400 nabi Asyera (dewa hutan belukar) bahwa Tuhan yang di surga adalah Tuhan yang Mahakuasa yang patut di sembah bukan Baal dan Asyera. Penyembahan kepada Baal dan Asyera dilakukan oleh bangsa Israel karna mereka percaya, Baal adalah dewa yang memberikan kesuburan tanah dan mendatangkan hujan. Baal dan Asyera dapat memberikan kemakmuran.
Diatas Bukit Karmel, Elia mendahulukan nabi-nabi Baal sebanyak 450 orang untuk berdoa kepada Baal memohon api untuk membakar korban yang telah disediakan. Nabi Baal semuanya berdoa memohon agar Baal menurunkan api membakar korban yang sudah disediakan.
Akan tetapi sampai mereka habis tenaga berteriak sampai mereka melukai diri mereka hingga darah bercucuran, memohon agar Baal menurunkan api membakar korban yang mereka sudah sediakan tetapi tak kunjung dating hingga petang hari. (I Raja-Raja 18:28).
Kemudian mereka memberikan waktu bagi Elia untuk berdoa kepada Tuhan agar menurunkan api dari langit untuk membakar korban yang telah disediakan Elia di hadapan seluruh rakyat itu. Setelah Elia berdoa maka turunlah api Tuhan dari langit.
3.KEROHANIAN YANG TIMPANG
Keadaan kerohanian umat Israel pada waktu itu disebut timpang karna bercabang hati. Sementara mereka menyembah Tuhan, penyembahan kepada berhalapun mereka lakukan, mungkin untuk sebagian secara tersembunyi dan yang lain terang-terangan seperti yang dilakukan Raja Ahab dan Izebel istrinya telah melakukan hal yang sama.
“Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN (Yahweh) itu Tuhan ikutlah Dia dan kalau Baal, ikutlah dia.’ Tetapi rayat itu tidak menjawabnya sepata kata pun.” (I Raja-Raja 18:21).
Hal demikian itulah yang sangat menyakiti hati Tuhan si pencipta yang hanya kepadaNyalah harus dan patut diberi hormat, pujian dan penyembahan yang tulus.
Tuhan tidak menerima persembahan dengan hati bercabang, hati yang terbagi, sebagian untuk dewa, atau berhala dan sebagian untuk Tuhan. Tuhan mau agar segenap hati kita diberikan kepada-Nya. Segenap cinta kita hanya tertuju kepada-Nya. Dan segenap kehidupan kita hanya bergantung pada kasih karunia-Nya. Dialah satu-satunya sumber kehidupan, sumber segala keperluan hidup dan sumber segala perkara yang kita perlukan dalam hidup ini.



.Untuk mengembalikan hati bangsa Israel kepada penyembahan yang benar yaitu kepada Tuhan Khalik semesta alam, maka diutus Tuhanlah Nabi Elia, yang dengan penuh keberanian menemplak dan menegur Raja Ahab dan istrinya Izebel yang telah membawa bangsa itu kepada penyembahan Baal dan Asyera.
Dasar dan alasan penyembahan kepada berhala dan dewa adalah karna adanya keinginan untuk hidup lebih makmur dan bahagia. Keserakahan, kesombongan dan keinginan daging akan dapat dipenuhi dengan melakukan penyembahan kepada dewa Baal dan Asyera karna mereka benar-benar percaya, bahwa dewa itulah yang sanggup memberikan kemakmuran dan perlindungan. Demikian pulalah kepercayaan bangsa-bangsa yang ada disekitar mereka pada watu itu.
Bagaimanakah gambaran yang sebenarnya dari kerohanian manusia itu sekarang ini? Apakah ada kemungkinan juga mereka terlibat dalam penyembahan kepada berhala-berhala seperti zaman Israel dahulu? Kalau kita katakan, “Berhala” saat sekarang ini, apakah yang timbul dalam pikiran kita pada zaman moderen ini? Apakah ada: “Berhala” dihati manusia moderen yang menjauhkan Tuhan dalam segala kegiatan hidup dan tujuan kehidupannya? Apakah manusia sekarang ini masih benar menyembah kepada Tuhan dan percaya bahwa Dialah sumber kemakmuran dan kebahagiaan itu? Apakah mungkin seperti pemimpin dan raja Israel Ahab dan Izebel itulah yang mempengaruhi rakyat menyembah berhala maka demikian juga sekarang yakni Israel rohani, umat Tuhan dipengaruhi oleh kehidupan para pemimpin yang menyembah berhala modern sehingga umat Tuhan juga mengikuti penyembahan berhala modern?
Bila Tuhan telah mengutus Nabi Elia dengan penuh keberanian dan kuasa surga menegur dosa Raja Ahab dan Izebel serta menyatakan kuasa Tuhan di Bukit Karmel, di hadapan semua nabi palsu yang menarik hati bangsa itu kepada penyembahan berhala Baal dan Astoreth, maka hal yang sama pula sudah terjadi pada zaman Yohanes Pembabtis dimana dia telah diutus dating dalam kuasa dan roh Elia kepada bangsa Yahudi dan bahkan akan mengutus juga Elia moderen untuk zaman kita ini.











4.ISRAEL DIPULIHKAN KEPADA PENYEMBAHAN TUHAN SAJA
“Lalu turunlah api Tuhan menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya. Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka dan berkata: ‘TUHAN (Yahweh), Dialah Tuhan! TUHAN (Yahweh) Dialah Tuhan!’” (I Raja-Raja 18:38-39).
Doa Elia di jawab, Tuhan menurunkan api dari langit membakar habis korban Elia di hadapan rakyat itu. Sehingga umat itu yakin dan berseru:





“TUHAN, Dialah Tuhan! TUHAN Dialah Tuhan!” (I Raja-Raja 18:39). Kemudian Elia menyuruh menangkap semua Nabi Baal satu pun tidak ada yang luput dan membunuh mereka di Sungai Kison (ayat 40). Dengan demikian Elia telah mengembalikan hati bangsa itu kembali kepada Tuhan Khalik semesta alam, hanya satu-satunya yang patut di sembah karna Dialah sumber kemakmuran dan kebahagiaan yang sejati. Dialah Tuhan si pencipta dan penguasa semesta alam ini.
Kemudian Elia berpesan kepada Raja Ahab agar segera pulang karna hujan akan segera turun. Elia kembali naik ke atas Gunung Karmel untuk berdoa memohon agar hujan segera turun. Setelah 7 kali Elia berdoa maka awan gelap muncul dari permukaan laut dan dengan segera menurunkan hujan yang lebat. (I Raja-Raja 18:45). Dan oleh kuasa Tuhan, Elia berlari mendahului Raja Ahab yang naik kereta kuda menuju Yizreel dan sementara itu hujanpun turunlah.
Kuasa Tuhan Nyata Melalui Nabi Elia

Gua Elia di gunung Karmel, Israel.
Setelah 3,5 tahun kekeringan dan kelaparan, Elia muncul dan meminta Ahab untuk mengumpulkan semua nabi Baal, 450 orang semuanya, untuk membuktikan siapa yang hidup, TUHAN atau Baal. Nabi-nabi Baal dan Elia masing-masing membuat mezbah dengan seekor lembu di atasnya, kemudian masing-masing harus meminta allahnya untuk mendatangkan api dari langit supaya membakar korban di mezbah. Nabi-nabi Baal tidak berhasil, sedangkan doa Elia didengar TUHAN, yang mengirim api dari langit untuk membakar habis korban di mezbah. Setelah rakyat melihat itu, mereka mengaku TUHAN adalah Allah, lalu menangkapi semua nabi-nabi Baal dan Elia membunuh mereka semua di sungai Kison. Selanjutnya Elia berdoa dan turunlah hujan ke wilayah Israel.(1 Raja-raja 18)


Ayat-Ayat Alkitab Yang Berkaitan Dengan Nabi Elia

Lukas 1:17 mencatat bahwa pada waktu Zakharia menerima nubuat kelahiran anaknya, Yohanes Pembaptis, malaikat Gabriel menyampaikan pesan Tuhan bahwa Yohanes Pembaptis "akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya." Dengan demikian menggenapi nubuat Maleakhi 4:5.
Yohanes Pembaptis memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit (Matius 3:4; Markus 1:6), mirip dengan penampilan Elia (2 Raja-raja 1:8), yang merupakan tanda orang-orang asketik, yaitu yang sengaja hidup sederhana dan seminimal mungkin. Tapi Yohanes menyatakan bahwa ia bukan Elia (yang lahir lagi atau menjelma kembali) (Yohanes 1:21), melainkan ia menerima roh dan kuasa Elia untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan Yesus (Lukas 1:17). Tuhan Yesus sendiri menegaskan peranan Yohanes sebagai Elia (Matius 16:14; Markus 8:28); .
Di Perjanjian Baru dicatat bahwa orang-orang menganggap Yesus sebagai penjelmaan Elia (Matius 11:14; Matius 17:10-13; Lukas 9:19).
Pada satu kali, Yesus mengajak 3 murid-Nya, Petrus, Yohanes dan Yakobus, naik ke atas suatu gunung. Di sana Yesus berubah rupa, wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Ia berbicara dengan Elia dan Musa. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian Yesus yang akan digenapi-Nya di Yerusalem.(Matius 17:1-13; Markus 9:2-13; Lukas 9:28-36)
Lukas 4:24-27 mencatat bahwa Yesus memakai Elia sebagai contoh penolakan nabi oleh bangsanya: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.
Dalam suratnya, Roma 11:1-6, Rasul Paulus menjelaskan bahwa Allah tidak menolak umat-Nya yang dipilih-Nya. Contohnya: Elia, waktu ia mengadukan Israel kepada Allah: Tuhan, nabi-nabi-Mu telah mereka bunuh, mezbah-mezbah-Mu telah mereka runtuhkan; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku. Firman Allah kepadanya: "Aku masih meninggalkan tujuh ribu orang bagi-Ku, yang tidak pernah sujud menyembah Baal."
Yakobus 5:16-18 menyatakan bahwa "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." Contohnya: Elia adalah manusia biasa, tetapi ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.
Demikianlah artikel  yang berjudul Biografi Dan Profil Lengkap Nabi Elia (Kisah Perjalanan Hidupnya). Semoga dapat bermanfaat bagi saudara-saudara terkasih semuanya.Jika ada permintaan,saran,maupun komentar saudara semuanya,silahkan untuk memberikan komentarnya di kolom komentar di bawah ini.

Terima kasih telah berkunjung…
Tuhan Memberkati Kita


Syaloom…

0 Response to "Biografi dan Profil Lengkap Nabi Elia (Kisah Perjalanan Hidupnya)"

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Artikel Terpopuler

Pages